Kini tidak dapat dipungkiri teknologi hampir menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Rasanya hampir semua orang kini membutuhkan teknologi di kehidupannya. Begitu juga dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Saat ini beberapa sekolah sudah mulai menerapkan penggunaan teknologi baik hardware maupun software dalam pembelajarannya. 

Tak terkecuali sekolah berbasis pesantren yaitu SMA IT Al Mutazam. Sekolah berbasis pesantren biasanya memberlakukan beberapa batasan dalam menggunakan teknologi bagi santrinya dengan maksud dan tujuan tertentu. Namun, demi mengikuti perkembangan zaman dan kualitas pembelajaran yang meningkat SMA IT Al Mutazam akhirnya menerapkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran untuk para santrinya. 

Sebelumnya sebagai gambaran, sekolah berbasis pesantren merupakan salah satu model pendidikan Islam yang mengintegrasikan dua sistem sosial, yakni keunggulan sistem sosial pesantren dan keunggulan sistem sosial sekolah. Model pendidikan Islam ini dapat menciptakan manusia yang agamawan sekaligus ilmuwan, sehingga dapat berperan penuh dalam sistem sosial kemasyarakatan.

Sekolah berbasis pesantren memiliki konsep perubahan sosial ini mengintegrasikan sistem pendidikan pesantren dan sistem pendidikan sekolah menjadi kesatuan yang utuh. Perubahan sosial ini ada karena adanya kemauan dari orang tua siswa dan hasil pemikiran para pakar untuk membentuk lembaga pendidikan yang mewujudkan lulusan yang ilmuwan dan agamawan. 

Lalu, bagaimana peran teknologi dalam pembelajaran di sekolah pesantren?

Saat ditanya mengenai hal ini, Pak Edi selaku salah satu guru dari SMA IT Al Mutazam mengaku merasa bersyukur karena sudah bertemu dan belajar mengenai teknologi dari tim websis terlebih saat adanya pandemi. Beliau bercerita kalau saat awal pandemi santri-santri dipulangkan. Namun, sekolah merasa sudah cukup siap karena sebelumnya sudah mendapatkan bimbingan mengenai teknologi dalam pembelajaran dari tim websis. 

“Alhamdulillah mba…kami bersyukur sekali sudah bertemu dengan websis sebelum ada pandemi. Jadi, waktu ada pandemi dan pembelajaran kami sudah siap,” kata pak Edi. 

Masuk tahun ajaran baru, ada santri-santri baru yang masuk. Kebijakan yang sebelumnya pembelajaran dilakukan jarak jauh, karena ada santri baru lalu santri-santri yang baru tersebut masuk secara bertahap. Saat masuk pesantren mereka diberi pembekalan agar lebih siap jika pembelajaran dilakukan jarak jauh lagi. Setelah itu di bulan November pembelajaran kembali dilakukan secara jarak jauh. 

Ilmu yang didapatkan dari websis banyak diaplikasikan terutama di smart classroom. Untuk pembelajaran offline di sekolah, santri-santri di smart classroom menggunakan ipad sebagai alat belajar. Alat belajar yang digunakan disimpan di sekolah tidak dibawa ke pondok. Jam belajar mereka 07.00 – 15.00 santri bisa pakai alat belajar. Mereka hanya dapat hak pegang saat jam belajar itu. Ketika awal-awal belum efektif karena memang masih adaptasi. Namun seiring berjalannya waktu pembelajaran dengan menggunakan teknologi menjadi lebih lancar, terutama sewaktu pandemi. 

Pak Edi bercerita kalau santri-santri di SMA IT Al Mutazam datang dari berbagai daerah. Ada yang dari kota, dari desa, dari jawa, luar jawa. Jadi, kendala yang dirasakan adalah mengenai sinyal. Ada santri yang harus menempuh perjalanan jauh baru dapat sinyal. Namun, dari beberapa kendala tersebut masih lebih banyak dampak positif yang dirasakan pihak sekolah pesantren setelah menerapkan teknologi dalam pembelajarannya. 

Dari cerita di atas bisa kita simpulkan kalau ternyata teknologi tidak hanya bisa diterapkan di sekolah-sekolah pada umumnya namun juga bisa diterapkan di sekolah berbasis pesantren. 

Tertarik untuk menerapkan teknologi dalam pembelajaran? Segera konsultasikan bersama kami