Siapa yang tak kenal sekolah Al Azhar? Al Azhar merupakan sekolah terpadu dari tingkat kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Yayasan Al Azhar yang didirikan sejak tahun 1952 kini sudah mempunyai ratusan sekolah dan produk pendidikan lain seperti buku pelajaran dan buku bacaan. Dari tahun ke tahun sekolah yang didirikan oleh dr. Syamsudin ini terus berinovasi menjadi lembaga dakwah dan pendidikan. Kini sekolah Al Azhar tidak hanya berada di kota-kota besar saja namun sudah masuk ke beberapa daerah.

Terfokus pada dunia pendidikan, seluruh staf dan guru bersinergi untuk mewujudkan visi dan misi Al Azhar. Salah satu praktisi yang turut andil dengan kesuksesan yayasan ini adalah Bapak Ruli. Beliau sempat menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Al Azhar 01. Selain itu beliau juga salah satu inisiator adanya tim digital di Al Azhar. Apa itu tim digital? Tim digital adalah tim yang bertugas untuk mengeksplor dan melatih guru-guru untuk menggabungkan pedagogi dan teknologi. Tim digital tergabung dari guru-guru yang berada di depan untuk mendapatkan pelatihan.

Munculnya ide membuat tim digital ini bermula saat Pak Ruli merasa bahwa anak-anak sekarang jauh lebih modern. Guru adalah sosok teladan bagi siswa-siswinya. Jika guru-guru tidak mengikuti perkembangan zaman maka akan dianggap kuno. Untuk meminimalisir gap tersebut, maka Al Azhar menggandeng Websis for Edu untuk bersama-sama membangun ekosistem yang lebih baik lagi di bidang teknologi.

“Seperti gayung bersambut, ide dan kesempatan ini berjalan beriringan”, kata Pak Ruli sebagai salah satu pelopor terbentuknya tim digital di Al Azhar.

Tim digital perlu dibentuk sebagai lokomotif perubahan para pendidik. Mereka akan menggerakkan gerbong besar para pendidik di sekolah. Mereka yang pertama mendapat pelatihan pembelajaran digital, selanjutnya menjadi asisten pelatih pembelajaran digital guru guru yg lain. Saatnya nanti, mereka yang menjadi pelatih setiap aktivitas pelatihan digital guru-guru. Awalnya Al Azhar dan Websis for Edu membuat pilot project di satu kelas. Setelah berhasil, diadaptasi ke kelas-kelas lain dan sekolah-sekolah lain.

Teknisnya, Websis for Edu melatih teacher champion yang tergabung tim digital. Tim yang telah melakukan pelatihan akan melatih ke berbagai sekolah-sekolah. Setelah melakukan pelatihan, mereka juga harus melakukan pendampingan di kelas-kelas. Namun, kini di setiap sekolah sudah mempunyai tim digitalnya masing-masing. Tim digital inilah yang menjadi lokomotif perubahan pendidikan di Al Azhar. Dalam artian tim ini memegang peranan penting agar tiap sekolah mampu berinovasi dan beradaptasi. Tim yang telah terbentuk wajib mengetahui dan mempelajari informasi-informasi terbaru tentang dunia pendidikan dan digital.

Pak Ruli pun sempat membahas bagaimana mengembangkan tim digital. Agar tim digital ini mampu membangun ekosistem sekolah dan dapat berinovasi dan beradaptasi, pengangkatan tim perlu diformalkan berupa surat tugas dan diberi anggaran atas kegiatannya. Termasuk pula adanya honor khusus atas aktivitasnya. Kegiatan disusun di awal tahun dalam rapat kerja (raker), lalu sosialisasikan kepada seluruh masyarakat sekolah. Setelah semua sudah terbentuk maka tim digital perlu dioptimalkan. Cara mengoptimalkan tim digital dengan terus memberi tantangan, misal mengirimkan mereka ke setiap pelatihan di luar sekolah dan meminta mereka memberikan hasil pelatihan itu ke guru-guru yg lain. Dengan metode-metode tersebut, Tim digital diharapkan mampu menjadi pilar penguat pendidikan di sekolah-sekolah terkhusus di Al Azhar sendiri.

Tertarik membentuk Tim Digital di sekolah Anda? Segera konsultasikan bersama kami!