Dunia digital dan otomasi berlari dengan kencang. Siap-siap saja pelayan rumah makan atau kafe akan tersisih. Mirip dengan petugas pintu gerbang tol, meski beberapa petugas masih berjaga-jaga di pintu tol.

Kafe tanpa pelayan ini dipelopori oleh Jack Ma, pemilik Alibaba asal China. Jika kita memasuki TaoCafe miliknya di Hangzhou, China, jangan cemberut jika tidak ada senyuman penyambutan dari pelayan. Alih-alih disambut, kita malah harus memindai kode QR pada aplikasi Taobao di pintu masuk toko. Begitu pemindaian selesai, kita langsung diawasi sejumlah kamera di kafe itu.

Lalu kita duduk di meja yang berupa layar untuk menampilkan menu-menu yang ada. Layar ini dilengkapi dengan teknologi pengenalan suara sehingga bisa “berkomunikasi” dengan kita. Setelah selesai menunjuk menu yang kita pilih, layar akan mengonfirmasi pilihan dan cara bayar.

Jika kita mengiyakan, maka proses pemesanan pun selesai. Harga makanan nanti akan dipotong dari saldo Alipay kita. Oleh karena itu, pastikan saldo Alipay kita cukup untuk membayar sejumlah makanan di TaoCafe. Akan tetapi jika kita membutuhkan layanan manual, ada menu yang bisa kita ketuk dan pelayan manusia pun siap mendatangi kita.

Sambil menunggu pesanan datang, di layar yang sama kita bisa bermain game. Layar cerdas ini bisa mengingat sejarah pemesanan makanan kita jika kita sering makan di TaoCafe ini. Dari data yang ada, layar ini bisa merekomendasi menu yang sesuai dengan selera kita.

Selesai makan, tak perlu repot memanggil pelayan atau menuju kasir. Alipay akan menyelesaikan itu semua.

Karena tidak ada biaya operasional untuk pelayan, kasir, dan sebagainya, biaya pengeluaran kafe tanpa awak yang dibuka pada Juli 2017 ini hanya sekitar seperempat dari restoran tradisional.

——————————

Baca Juga:

——————————

Ancaman menganggur ternyata juga mengancam barista setelah Jepang memperkenalkan Sawyer, robot barista, di Henn-na Cafe, Tokyo, dalam sebuah demo akhir Januari 2018. Sama seperti di TaoCafe, pengunjung yang akan ngopi di Henn-na Cafe ini harus memindai kode QR yang dicetak pada tiket yang dibeli dari mesin penjual otomatis untuk mendapatkan kopi seharga sekitar Rp 39.000.

Sawyer mampu melayani maksimal lima cangkir kopi sekaligus. Satu cangkir membutuhkan waktu sekitar empat menit. Sebuah kafe biasanya mempekerjakan sekitar empat sampai lima orang untuk mengoperasikan mesin dan menyajikan kopi. Bisa dibayangkan berapa banyak barista yang akan tersingkir oleh Sawyer.

Namun bukan itu masalahnya. Sawyer justru membantu Jepang karena negara ini kekurangan tenaga kerja seiring demografi penduduknya yang lebih didominasi kaum usia lanjut.

Dengan adanya Sawyer, menurut salah seorang manajer, justru akan membantu menjaga harga secangkir kopi tetap rendah. Henn-na Cafe dibuka untuk umum sejak 1 Februari 2018.

Sumber: Intisari


Websis for Edu adalah konsultan untuk adopsi dan integrasi teknologi dalam pendidikan.

Dapatkan berita terkini, tips-tips praktis, serta fakta-fakta menarik seputar pendidikan dan teknologi dengan mengikuti channel Telegram @PendidikanAbad21 atau kunjungi websis.co.id jika Anda tertarik mengetahui program Smart Classroom lebih jauh.