Kecakapan Era 4.0

Tulisan ini adalah publikasi ulang dari tulisan Satryo Soemantri Brodjonegoro di kolom Opini harian Kompas, 14 Februari 2017

Era 4.0 (revolusi industri keempat) dicirikan oleh kompleksnya persoalan yang akan dihadapi penduduk dunia. Semua jenis pekerjaan akan semakin kompleks. Hal ini disebabkan kombinasi globalisasi dengan teknologi informasi yang kecepatan perkembangannya sangat di luar dugaan. Untuk dapat berkiprah di era 4.0 diperlukan kecakapan menangani persoalan yang kompleks.

Dalam buku The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab menggambarkan adanya sejumlah jenis pekerjaan yang akan hilang dalam waktu dekat. Juga sejumlah jenis pekerjaan yang akan bertahan terus bahkan makin banyak dibutuhkan.

Jenis pekerjaan yang akan segera hilang antara lain:

  • Telemarketers (pemasaran jarak jauh)
  • Tax preparers (penyiapan dokumen pajak)
  • Umpires-referees-other sport officials (wasit-hakim garis-petugas olahraga lainnya)
  • Legal secretaries (sekretaris urusan peraturan)
  • Real estate brokers (perantara tanah-bangunan)
  • Farm labour contractors (kontraktor buruh tani)
  • Couriers-messengers (kurir)

Hilangnya jenis pekerjaan tersebut disebabkan adanya otomatisasi berbasis teknologi informasi.

Sebaliknya, jenis pekerjaan yang akan langgeng antara lain:

  • Mental health and substance abuse social workers (pekerja sosial yang menangani mereka yang mengalami gangguan kejiwaan atau kekerasan)
  • Choreographers (koreografer)
  • Physicians-surgeons (dokter-dokter bedah)
  • Psychologists (psikolog), human resources managers (manajer sumber daya manusia)
  • Computer systems analysts (analis sistem komputer)
  • Anthropologists-archeologists (antropolog-arkeolog)
  • Marine engineers-naval architectures (ahli teknik perkapalan)
  • Sales managers (manajer penjualan)
  • Chief executives (direktur utama)

Jenis pekerjaan ini tidak dapat digantikan fungsinya oleh komputer ataupun teknologi otomasi.

——————————

Baca Juga:

——————————

Kecakapan Sosial Semakin Diperlukan

Majalah The Economists edisi 14 Januari 2017 menampilkan laporan khusus yang menggambarkan pentingnya kecakapan sosial (social skills) dalam bekerja. Pola perekrutan tenaga kerja di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sejak tahun 1980 yang dibutuhkan adalah mereka dengan kecakapan sosial yang tinggi meskipun keterampilan matematikanya rendah. Mereka dengan keterampilan matematika yang tinggi, tetapi kecakapan sosial rendah tidak dibutuhkan.

Hasil kajian penulis yang disajikan dalam Laporan ACDP-016 Balitbang Kemdikbud tahun 2015 menunjukkan bahwa ada pergeseran kecakapan di negara maju (OECD) sejak tahun 1960, di mana kebutuhan akan kecakapan non-rutin analitis dan kecakapan non-rutin interaktif meningkat terus. Sebaliknya, kecakapan rutin kognitif, non-rutin manual, dan rutin manual menurun terus kebutuhannya.

Dalam bidang teknik, negara anggota Washington Accord telah menyepakati profil lulusan pendidikan tinggi teknik sejumlah 12 atribut. Ke-12 atribut itu terdiri atas:

  • Pengetahuan keteknisan (engineering knowledge)
  • Analisa persoalan (problem analysis)
  • Perancang/pengembangan untuk solusi (design/development of solutions), investigasi (investigation)
  • Penggunaan perangkat mutakhir (modern tool usage)
  • Insinyur dan masyarakat (the engineer & society)
  • Lingkungan dan keberlanjutan (environment & sustainability)
  • Etika (ethics), kerja individu dan kerja bersama (individual & teamwork), komunikasi (communication)
  • Manajemen proyek dan keuangan (project management and finance)
  • Pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning)

Dari 12 atribut tersebut, tujuh di antaranya termasuk kategori kecakapan (soft skills), sedangkan lainnya termasuk kategori keterampilan (hard skills). Kecakapan di sini termasuk kecakapan sosial dan kecakapan non-rutin.

Salah satu jenis pekerjaan yang akan langgeng adalah dokter dan dokter bedah karena kemampuannya menangani pasien (sebutan pasien seyogianya diganti menjadi mitra karena sejajar dengan dokter) yang unik dan kompleks. Setiap orang memiliki keunikan sehingga dokter harus mampu menangani mitra sesuai dengan keunikannya.

Terapi dan obat yang cocok untuk satu mitra belum tentu cocok untuk mitra lain dengan penyakit yang sama. Oleh karena itu, seperti halnya di bidang teknik, di bidang kedokteran perlu ditekankan pentingnya kecakapan (soft skills) sehingga peran dokter tidak tergantikan oleh teknologi informasi. Pada saat ini sudah sangat tersedia berbagai perangkat lunak untuk diagnosis penyakit dan alternatif penanggulangannya, seorang mitra dapat mendiagnosis dirinya kemudian mencari alternatif obat dan terapi yang tersedia.

Berdasarkan deskripsi di atas, jelas bahwa kecakapan era 4.0 adalah kemampuannya dalam menangani persoalan yang kompleks melalui kecakapan non-rutin dan kecakapan sosial. Program pengembangan kapasitas sumber daya manusia di era 4.0 harus dilakukan melalui pendidikan yang memberikan kecakapan non-rutin dan kecakapan sosial, sedangkan untuk kapasitas lainnya, seperti keterampilan dan kecakapan rutin, diberikan melalui pelatihan. Dengan demikian terdapat pembagian peran yang jelas antara pendidikan (non-rutin) dengan pelatihan (rutin), dan ini dapat menjadi rujukan dalam merancang sistem pembangunan sumber daya manusia era 4.0.

Sumber: Kompas


Websis for Edu adalah konsultan untuk adopsi dan integrasi teknologi dalam pendidikan.

Dapatkan berita terkini, tips-tips praktis, serta fakta-fakta menarik seputar pendidikan dan teknologi dengan mengikuti channel Telegram @PendidikanAbad21


Liat informasi lainnya di kanal Pendidikan abad 21 atau tonton video penerapan teknologi dalam proses belajar mengajar di  Websis TV.
All about tech adoption and research.
We help you to integrate technology and research into your organization, empowering your team to become more productive by using mobile technologies.

© 2018. PT. Websis Solusi Indonesia.
All Rights Reserved. Privacy Policy.