Gen Z secara aktif bekerja untuk mendapatkan uang di usia muda, baik melalui pekerjaan sampingan atau lepas.

Nama Joey Alexander berkibar setelah menjadi musisi Indonesia pertama yang masuk dalam nominasi Grammy Awards 2016. Selain Joey, ada pula nama anak Indonesia yang mendunia, salah satunya Yuma Soerianto, yang pada usia belia sudah mengembangkan aplikasi bikinan sendiri. Prestasi Yuma itu berhasil mempertemukannya dengan Tim Cook, CEO Apple, dan Michelle Obama.

Kesamaan keduanya, selain jenius, adalah berada di usia yang disebut sebagai Generasi Z—mereka yang lahir mulai tahun 1996. Mereka juga akrab dengan teknologi dan memiliki akses informasi yang lebih mudah ketimbang generasi sebelumnya.

Tak hanya itu, Generasi Z diketahui juga lebih toleran pada isu-isu ras, seksualitas, dan keberagaman. Di tahun ini, Generasi Z tertua memasuki usia 22 tahun dan mulai memiliki pengaruh terhadap ekonomi, politik, dan kehidupan sosial saat ini. Generasi ini piawai dalam menggunakan perangkat teknologi, khususnya untuk menghemat waktu dengan efisien, pemberdayaan diri, sekaligus memengaruhi impian mereka di masa depan.

Untuk mengetahui preferensi Generasi Z di Jawa-Bali dalam menentukan tujuan hidupnya di masa depan, pada 9 Maret-16 Juni 2017 Tirto melakukan survei 1.201 responden yang berusia 7 hingga 21 tahun. Survei ini sendiri dilakukan di Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar.

Pada survei ini, sebaran responden berdasarkan jenis kelamin cukup merata dengan proporsi responden perempuan adalah 54,8 persen dan responden laki-laki 45,2 persen. Mayoritas responden berpendidikan SMA sebanyak 25,2 persen dan kuliah sebanyak 34,8 persen. Sementara tingkat SMP sebanyak 24 persen dan SD 15,7 persen.

Media Sosial yang Memengaruhi Cita-cita Gen-Z

Sebesar 34,1 persen generasi Z mengakses internet per hari selama 3-5 jam dan aplikasi yang paling sering dikunjungi adalah Instagram. Aplikasi lainnya yang sering diakses adalah Line sebanyak 45,4 persen, Google Tools (42,1 persen), dan YouTube sebesar 39,4 persen.

 

Dalam riset Getting to Know Gen Z: How The Pivotal Generation is Different From Millennials yang dilakukan oleh Barkley dan FutureCast, Instagram menjadi sumber dan tempat inspirasi Generasi Z. Mereka menghabiskan waktu untuk menyunting gambar dan menciptakan versi paling aspiratif dari diri mereka sendiri. Itulah sebab saluran ini begitu disukai Generasi Z. Berdasarkan riset yang dilakukan Tirto, kehadiran media sosial ini memunculkan cita-cita yang tergolong baru, yaitu menjadi gamer dan YouTuber.

Sebanyak 7,1 persen pelajar SD dan SMP di Jawa-Bali menyatakan bercita-cita menjadi gamer, sedangkan 2,9 persen lainnya menjadi YouTuber. Meski demikian, persentasenya memang masih lebih kecil dibandingkan dengan pilihan cita-cita dan profesi lainnya. Besar kemungkinan, cita-cita menjadi YouTuber ini dipicu karena keinginan menjadi influencer.

Selain itu, ada anggapan bahwa menjadi YouTuber bisa mendatangkan uang dengan mudah. Padahal, menjadi Youtuber tidak sesederhana yang terlihat. Seperti yang dinyatakan oleh Kevin Hendrawan—salah satu selebritas media sosial paling berpengaruh saat ini, YouTuber pun harus menutup biaya produksi yang bisa membuat tekor.

Risiko lainnya adalah pekerjaan tersebut bisa hilang bila pemerintah menutup situs Youtube. Risiko ini juga disinggung dalam penelitian yang dilakukan oleh Mathias Bärtl pada 2018 di Amerika Serikat. Menurut Bärtl, 96,5 persen dari semua yang mencoba menjadi YouTuber tidak akan menghasilkan cukup uang dari iklan untuk memecahkan garis kemiskinan di Amerika Serikat.

Sementara keinginan menjadi gamer digandrungi oleh Generasi Z laki-laki. Profesi tersebut menempati peringkat kedua (14,3 persen) setelah dokter (15,1 persen). Angka pemain gim dari Generasi Z juga semakin meningkat; ini dipengaruhi harga konsol, akses internet, dan pertumbuhan mobile game di gawai.

Tak hanya itu, adanya kompetisi gim lokal dan internasional, juga pelatihan dengan tim profesional, membuat profesi ini begitu menarik untuk digeluti. Salah satunya adalah Aaron ‘Mindfreak’ Leinhart yang mulai meniti karier sebagai gamer pada usia 14 tahun.

Pengusaha: Pekerjaan Impian Generasi Z

Adanya keinginan menjadi YouTuber dan gamer menandakan begitu dekatnya Generasi Z dengan teknologi, khususnya media sosial. Tak hanya digunakan sebagai sumber inspirasi atau bertujuan untuk menginspirasi, terlihat jelas bahwa media sosial juga dimanfaatkan sebagai alat untuk menghasilkan uang.

Dalam riset yang dilakukan oleh The Center for Generational Kinetics di 2017, Generasi Z mendapatkan penghasilan mereka sendiri lebih awal dibandingkan generasi sebelumnya. Gen Z secara aktif bekerja untuk mendapatkan uang di usia muda, baik melalui pekerjaan sampingan atau lepas. Tak heran bila bidang pekerjaan yang diminati oleh mahasiswa Generasi Z adalah pengusaha –sebesar 23 persen.

Dilihat berdasarkan jenis kelamin, mayoritas laki-laki memilih menjadi pengusaha (33,1 persen) dan bekerja di perusahaan teknologi besar (15,2 persen) seperti Apple, Google, dan Facebook. Sedangkan, selain menjadi pengusaha (17,6 persen), perempuan lebih memilih untuk bekerja di bidang kesehatan (24,2 persen).

Terlihat jelas bahwa teknologi begitu memengaruhi Gen Z dalam menentukan pilihan untuk masa depan. Oleh sebab itu, penting untuk memberikan arahan di tengah canggihnya teknologi dan derasnya arus informasi. Keinginan untuk memberi impresi dan dampak di masyarakat bisa menjadi karakteristik dari Gen Z yang bisa membawa harapan positif. Namun, tidak menutup kemungkinan, alih-alih menjadi harapan malah menjadi bumerang bagi masyarakat.

Sumber: tirto.id


Websis for Edu adalah konsultan untuk adopsi dan integrasi teknologi dalam pendidikan.

Dapatkan berita terkini, tips-tips praktis, serta fakta-fakta menarik seputar pendidikan dan teknologi dengan mengikuti channel Telegram @PendidikanAbad21